Rabu, 21 Januari 2015

Kegiatan



Renstra: Pandu Terus Berjuang
Oleh Hengky Ola Sura
Divisi Indok PBH NUSRA


Rencana Strategis (Renstra) adalah salah satu jenis perencanaan wajib yang tidak hanya diadakan oleh lembaga pendidikan, instansi pemerintahan tetapi juga pada sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Selama tiga hari berturut-turut, sejak Senin, 17-19 Maret 2014, PBH NUSRA menggelar kegiatan Renstra di aula Hotel Permata Sari Maumere. Sebagai sebuah lembaga bantuan hukum PBH NUSRA menjadikan moment renstra sebagai refleksi kritis untuk mendalami sekaligus memilih jalur perjuangan yang tepat sasar yakni ada bersama masyarakat miskin/ marginal dan yang layak untuk diperjuangkan nasib dan hak-haknya. Kegiatan ini menjadi sangat penting karena merupakan rangkaian kegiatan penyusunan program selama tiga tahun ke depan. Maklum, renstra adalah forum yang sering dilakukan dengan melakukan analisis SWOT dan kemudian penentuan isu strategis ke depan.

Kegiatan yang difasilitasi oleh P. Hubert Thomas Hasulie, SVD dengan dibantu oleh P. Lukas Djua, SVD ini merupakan sebuah pembaruan bagi PBH NUSRA. Proses berjalan Renstra dengan mengambil metode refleksi biblis, sungguh memberikan inspirasi yang sarat makna karena Kitab Suci sendiri ternyata memuat banyak kisah perjuangan yang layak untuk direfleksikan, didalami dan dijadikan dasar pijak oleh organisasi bantuan hukum sekelas PBH NUSRA. PBH NUSRA sebagai lembaga bantuan hukum yang concern memberikan bantuan hukum litigasi dan terlebih non litigasi perlu juga mengangkat isu-isu pembangunan menuju masyarakat yang berdaulat sesuai dengan visi dan misinya untuk dijabarkan dalam bentuk program kerja.
Proses renstra menjadi sangat unik. Semua peserta diajak masuk dalam sebuah proses refleksi yang mirip acara rekoleksi. Saya sudah pesan lewat Yohanes Kia Nunang pada saat dia menghubungi saya di Canradytia untuk menjadi fasilitator, bahwa semua peserta harus bawa dengan Kitab Suci. Proses kegiatan dalam penyusunan renstra ini, saya akan dibantu oleh Pater Lukas Djua. Pater Lukas akan bersama-sama kita untuk melihat seluruh proses kerja kita selama ini dan rencana kerja kita dengan pendalaman refleksi biblis. Demikian kata-kata Pater Hubert Thomas pada hari pertama perjumpaan kami memulai proses renstra.
 Pada hari pertama renstra, semua anggota PBH NUSRA yang beranggotakan komunitas Masyarakat Adat, Organisasi LSM dan anggota individu  dihentakan dengan sebuah pertanyaan reflektif dari Pater Hubert Thomas, apa yang sudah kawan-kawan kerjakan? Piter Embu Gusi, koordinator program PBH NUSRA angkat bicara. Berdasarkan program kerja kami dalam hal ini kerjasama dengan The Asian Foundation (TAF), yang paling utama adalah penguatan kapasitas kelembagaan, kami telah mengerjakan beberapa agenda penting yakni kongres ke II PBH Nusra. Dalam kongres tersebut kami telah menghasilkan kesepakatan bersama, program dan rencana kerja, statuta. Kerja-kerja kami selama ini berkenan dengan lembaga kami Perhimpunan Bantuan Hukum maka kami melayani konsultasi hukum, layanan litigasi dan non litigasi. Atas jawaban ini, pertanyaan baru yang kemudian muncul adalah apakah kerja itu berhasil, tidak berhasil atau sedang-sedang saja. Pertanyaan-pertanyaan menukik ini selanjutnya membawa semua peserta renstra dalam diskusi kelompok mengenai proses pergumulan tentang kerja PBH NUSRA sebagai sebuah organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak pada bidang hukum dan hak asasi manusia.
Diskusi kelompok hari pertama, para peserta renstra dibagi dalam kelompok berdasarkan asal, suku, etnis dan tempat tinggal untuk bersama-sama mendalami masalah yang terjadi di daerahnya dan peran anggota kelompok memperjuangkan masalah-masalah tersebut dalam organisasi bantuan hukum bernama Perhimpunan Bantuan Hukum Nusa Tenggara (PBH NUSRA). Pada pleno diskusi kelompok, banyak masalah yang sesungguhnya terjadi dan banyak dari masalah-masalah itu justru dialami oleh orang-orang kecil, masyarakat miskin/marginal yang terpinggirkan karena sistem kekuasaan yang  kadang menindas dan tidak berpihak. Misalnya praktek mafia peradilan, perang tanding memperebutkan tanah, penetapan kawasan hutan lindung dan hak guna usaha yang sepihak, perampasan tanah rakyat, perebutan tanah suku, kekerasan fisik oleh aparat, kekerasan terhadap anak dan perempuan, korupsi, penanganan terhadap kaum berkebutuhan khusus/disabilitas yang belum berjalan dengan baik dan efektif, masalah tambang, pelayanan kesehatan yang tidak memuaskan dan kasus-kasus pembunuhan yang belum diusut tuntas. Banyak memang masalah-masalah yang ada dan terjadi tetapi sebagai sebuah lembaga bantuan hukum PBH NUSRA mesti mencari format dan rencana strategis yang tepat untuk menentukan arah dan daya juang. 

Usai pleno pendataan kasus dan masalah-masalah yang terjadi, Pater Hubert mengingatkan semua peserta renstra dengan mengatakan, kita yang bekerja di lembaga-lembaga swadaya masyarakat jangan pernah romantis dengan orang-orang kecil, kita membuat pilihan bukan karena mereka benar tapi karena mereka menderita. Coba kita hubungkan dengan persoalan global, bagaimana seluruh yang ada di dunia ini dirampok.  Di seluruh dunia banyak orang menderita dan orang-orang yang menderitalah yang sudah sepatutnya mendapat perhatian.
Perencanaan strategis menjadi sangat penting karena merupakan kegiatan managerial yang berkelanjutan yang meliputi analisis situasi dan penetapan sasaran, serta kegiatan-kegiatan khusus untuk mencapai sasaran, untuk mencapai tujuan, untuk menghasilkan keputusan-keputusan fundamental tentang organisasi dan kerjanya, mengarahkan keberadaan organisasi dan  menentukan apa yang dicapai. Semua masalah pokok yang terjadi kemudian dibahas dan dicari sebab kunci dalam diskusi kelompok. Diskusi kelompok pada sesi kedua tidak lagi berdasarkan asal, suku dan etnis serta tempat tinggal melainkan berdasarkan minat peserta renstra untuk mendalami masalah-masalah pokok dan mencari sebab kunci. Dari sebab-sebab kunci para peserta kemudian diarahkan untuk memahami konteks perjuangan PBH NUSRA yakni masalah apa yang mau diselesaikan, perubahan apa yang dilakukan dan pendalaman isu-isu strategis.
Pada hari kedua, semua peserta renstra dipandu oleh Pater Lukas Djua, SVD dalam refleksi biblis tentang pengalaman iman. Hari ini kita berkonsentrai pada analisis Kitab Suci tentang iman dan hidup. Ajakan Pater Lukas membawa semua peserta renstra untuk saling berbagi/share pengalaman iman ketika terlibat dalam kerja-kerja kemanusiaan dan juga dalam hidup berkeluarga dan bermasyarakat. Pater Lukas kemudian menjelaskan bahwa dalam analisis sosial, orang dapat mengenal masalah-masalah secara teliti. Hasil analisa sosial sebetulnya sudah merupakan pengalaman iman. Kisahnya terungkap dalam Kitab Suci. Dilihat dalam  arti yang lebih luas Sabda Allah lebih luas, lebih besar. Sabda Allah ada lebih dahulu. Sabda ada dalam kebudayaan  bahkan kebudayaan yang paling primitif. Melihat alam adalah juga melihat sabda. Tujuan dari kerja lembaga adalah juga melihat permasalahan dalam terang sabda. Lebih jauh, Pater Lukas menguraikan bahwa sadar atau tidak tetapi kita masuk dalam tembok besar/makro bernama paham neoliberal. Darimana kita akan terus berjuang meski kita tahu kita berlawanan dengan tembok besar. Kekuatannya ada dari sabda Tuhan. Kemartiran adalah perjuangan dan sampai sekarang hidup terus.  Kekuatan sabdalah yang menjadi kekuatan iman.  Dalam share/ berbagi pengalaman iman dalam kerja-kerja kemanusiaan di masyarakat,PBH NUSRA harus pada akhirnya musti menyadari konteks perjuangannya adalah menegakan keadilan. Hukum itu hanya sarana, ia bisa dimanipulasi. Soal kepentingan orang bisa bermain, berkonspirasi untuk memutarbalikan fakta dan kebenaran. Prinsip demi hukum tidak bisa diterima tapi harus demi keadilan. Itu nilai yg harus dikejar.
Seluruh rangkaian proses diskusi selama renstra akhirnya memutuskan lima agenda besar yang menjadi pekerjaan rumah bagi PBH NUSRA. Lima rencana strategis yang menjadi fokus perhatian untuk dikerjakan selama tiga tahun ke depan antara lain; Managemen Konflik Tanah, Perjuangan untuk Pengadilan yang Bersih dan Adil, Perjuangan Menentang Perampokan Tanah Rakyat, Pemberdayaan Kelompok Masyarakat di Sekitar Lokasi Tambang dan Pemberdayaan Warga untuk Pengklaiman Hutan Adat. Lima program kerja ini telah dijabarkan ke dalam bidang-bidang kecil untuk menjadi fokus perjuangan.  Tentu bukan sebuah tugas yang tidak ringan. Program-program kerja ini menjadi tanggung jawab bersama PBH NUSRA untuk terus berjuang.
           
 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar