Renstra: Pandu Terus Berjuang
Oleh Hengky Ola Sura
Divisi Indok PBH NUSRA
Rencana Strategis (Renstra) adalah salah satu jenis
perencanaan wajib yang tidak hanya diadakan oleh lembaga pendidikan, instansi
pemerintahan tetapi juga pada sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Selama
tiga hari berturut-turut, sejak Senin, 17-19 Maret 2014, PBH NUSRA menggelar
kegiatan Renstra di aula Hotel Permata Sari Maumere. Sebagai sebuah lembaga
bantuan hukum PBH NUSRA menjadikan moment renstra sebagai refleksi kritis untuk
mendalami sekaligus memilih jalur perjuangan yang tepat sasar yakni ada bersama
masyarakat miskin/ marginal dan yang layak untuk diperjuangkan nasib dan
hak-haknya. Kegiatan ini menjadi sangat penting karena merupakan rangkaian
kegiatan penyusunan program selama tiga tahun ke depan. Maklum, renstra adalah forum yang sering dilakukan dengan melakukan
analisis SWOT dan kemudian penentuan isu strategis ke depan.
Kegiatan yang difasilitasi
oleh P. Hubert Thomas Hasulie, SVD dengan dibantu oleh P. Lukas Djua, SVD ini
merupakan sebuah pembaruan bagi PBH NUSRA. Proses berjalan Renstra dengan
mengambil metode refleksi biblis, sungguh memberikan inspirasi yang sarat makna
karena Kitab Suci sendiri ternyata memuat banyak kisah perjuangan yang layak
untuk direfleksikan, didalami dan dijadikan dasar pijak oleh organisasi bantuan
hukum sekelas PBH NUSRA. PBH NUSRA sebagai lembaga bantuan hukum yang concern memberikan bantuan hukum litigasi dan terlebih non
litigasi perlu juga mengangkat isu-isu pembangunan menuju masyarakat yang
berdaulat sesuai dengan visi dan misinya untuk dijabarkan dalam bentuk program
kerja.
Proses renstra menjadi sangat unik.
Semua peserta diajak masuk dalam sebuah proses refleksi yang mirip acara
rekoleksi. Saya sudah pesan lewat Yohanes Kia Nunang pada saat dia menghubungi
saya di Canradytia untuk menjadi fasilitator, bahwa semua peserta harus bawa
dengan Kitab Suci. Proses kegiatan dalam penyusunan renstra ini, saya akan
dibantu oleh Pater Lukas Djua. Pater Lukas akan bersama-sama kita untuk melihat
seluruh proses kerja kita selama ini dan rencana kerja kita dengan pendalaman
refleksi biblis. Demikian kata-kata Pater Hubert Thomas pada hari pertama
perjumpaan kami memulai proses renstra.
Pada hari pertama renstra, semua anggota PBH NUSRA
yang beranggotakan komunitas Masyarakat Adat, Organisasi LSM dan anggota
individu dihentakan dengan sebuah
pertanyaan reflektif dari Pater Hubert Thomas, apa yang sudah kawan-kawan
kerjakan? Piter
Embu Gusi, koordinator program PBH NUSRA angkat bicara. Berdasarkan program
kerja kami dalam hal ini kerjasama dengan The Asian Foundation (TAF), yang
paling utama adalah penguatan kapasitas kelembagaan, kami telah mengerjakan
beberapa agenda penting yakni kongres ke II PBH Nusra. Dalam kongres tersebut
kami telah menghasilkan kesepakatan bersama, program dan rencana kerja,
statuta. Kerja-kerja kami selama ini berkenan dengan lembaga kami Perhimpunan
Bantuan Hukum maka kami melayani konsultasi hukum, layanan litigasi dan non
litigasi. Atas jawaban ini, pertanyaan baru yang kemudian muncul adalah apakah
kerja itu berhasil, tidak berhasil atau sedang-sedang saja.
Pertanyaan-pertanyaan menukik ini selanjutnya membawa semua peserta renstra
dalam diskusi kelompok mengenai proses pergumulan tentang kerja PBH NUSRA sebagai
sebuah organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak pada bidang hukum
dan hak asasi manusia.
Diskusi kelompok hari pertama, para peserta renstra dibagi
dalam kelompok berdasarkan asal, suku, etnis dan tempat tinggal untuk
bersama-sama mendalami masalah yang terjadi di daerahnya dan peran anggota
kelompok memperjuangkan masalah-masalah tersebut dalam organisasi bantuan hukum
bernama Perhimpunan Bantuan Hukum Nusa Tenggara (PBH NUSRA). Pada pleno diskusi
kelompok, banyak masalah yang sesungguhnya terjadi dan banyak dari
masalah-masalah itu justru dialami oleh orang-orang kecil, masyarakat
miskin/marginal yang terpinggirkan karena sistem kekuasaan yang kadang menindas dan tidak berpihak. Misalnya
praktek mafia peradilan, perang tanding memperebutkan tanah, penetapan kawasan
hutan lindung dan hak guna usaha yang sepihak, perampasan tanah rakyat,
perebutan tanah suku, kekerasan fisik oleh aparat, kekerasan terhadap anak dan
perempuan, korupsi, penanganan terhadap kaum berkebutuhan khusus/disabilitas
yang belum berjalan dengan baik dan efektif, masalah tambang, pelayanan
kesehatan yang tidak memuaskan dan kasus-kasus pembunuhan yang belum diusut
tuntas. Banyak memang masalah-masalah yang ada dan terjadi tetapi sebagai
sebuah lembaga bantuan hukum PBH NUSRA mesti mencari format dan rencana
strategis yang tepat untuk menentukan arah dan daya juang.
Usai pleno pendataan kasus dan masalah-masalah yang terjadi,
Pater Hubert mengingatkan semua peserta renstra dengan mengatakan, kita yang
bekerja di lembaga-lembaga swadaya masyarakat jangan pernah romantis dengan
orang-orang kecil, kita membuat pilihan bukan karena mereka benar tapi karena
mereka menderita. Coba kita hubungkan dengan persoalan global, bagaimana
seluruh yang ada di dunia ini dirampok.
Di seluruh dunia banyak orang menderita dan orang-orang yang
menderitalah yang sudah sepatutnya mendapat perhatian.
Perencanaan strategis menjadi sangat penting karena
merupakan kegiatan managerial yang berkelanjutan yang meliputi analisis situasi
dan penetapan sasaran, serta kegiatan-kegiatan khusus untuk mencapai sasaran, untuk
mencapai tujuan, untuk menghasilkan keputusan-keputusan fundamental tentang
organisasi dan kerjanya, mengarahkan keberadaan organisasi dan menentukan apa yang dicapai. Semua masalah
pokok yang terjadi kemudian dibahas dan dicari sebab kunci dalam diskusi
kelompok. Diskusi kelompok pada sesi kedua tidak lagi berdasarkan asal, suku
dan etnis serta tempat tinggal melainkan berdasarkan minat peserta renstra
untuk mendalami masalah-masalah pokok dan mencari sebab kunci. Dari sebab-sebab
kunci para peserta kemudian diarahkan untuk memahami konteks perjuangan PBH
NUSRA yakni masalah apa yang mau diselesaikan, perubahan apa yang dilakukan dan
pendalaman isu-isu strategis.
Pada
hari kedua, semua peserta renstra dipandu oleh Pater Lukas Djua, SVD dalam
refleksi biblis tentang pengalaman iman. Hari ini kita berkonsentrai pada
analisis Kitab Suci tentang iman dan hidup. Ajakan Pater Lukas membawa semua
peserta renstra untuk saling berbagi/share
pengalaman iman ketika terlibat dalam kerja-kerja kemanusiaan dan juga
dalam hidup berkeluarga dan bermasyarakat. Pater Lukas kemudian menjelaskan
bahwa dalam analisis sosial, orang dapat mengenal masalah-masalah secara
teliti. Hasil analisa sosial sebetulnya sudah merupakan pengalaman iman. Kisahnya
terungkap dalam Kitab Suci. Dilihat dalam arti yang lebih luas Sabda Allah lebih luas, lebih
besar. Sabda Allah ada lebih dahulu. Sabda ada dalam kebudayaan bahkan kebudayaan yang paling primitif.
Melihat alam adalah juga melihat sabda. Tujuan dari kerja lembaga adalah juga
melihat permasalahan dalam terang sabda. Lebih jauh, Pater Lukas menguraikan
bahwa sadar atau tidak tetapi kita masuk dalam tembok besar/makro bernama paham
neoliberal. Darimana kita akan terus berjuang meski kita tahu kita berlawanan dengan
tembok besar. Kekuatannya ada dari sabda Tuhan. Kemartiran adalah perjuangan
dan sampai sekarang hidup terus.
Kekuatan sabdalah yang menjadi kekuatan iman. Dalam share/
berbagi pengalaman iman dalam kerja-kerja kemanusiaan di masyarakat,PBH NUSRA
harus pada akhirnya musti menyadari konteks perjuangannya adalah menegakan
keadilan. Hukum itu hanya sarana, ia bisa dimanipulasi. Soal kepentingan orang
bisa bermain, berkonspirasi untuk memutarbalikan fakta dan kebenaran. Prinsip
demi hukum tidak bisa diterima tapi harus demi keadilan. Itu nilai yg harus
dikejar.
Seluruh
rangkaian proses diskusi selama renstra akhirnya memutuskan lima agenda besar yang
menjadi pekerjaan rumah bagi PBH NUSRA. Lima rencana strategis yang menjadi fokus perhatian untuk dikerjakan selama
tiga tahun ke depan antara lain; Managemen Konflik Tanah, Perjuangan untuk
Pengadilan yang Bersih dan Adil, Perjuangan Menentang Perampokan Tanah Rakyat,
Pemberdayaan Kelompok Masyarakat di Sekitar Lokasi Tambang dan Pemberdayaan
Warga untuk Pengklaiman Hutan Adat. Lima program kerja ini telah dijabarkan ke dalam bidang-bidang
kecil untuk menjadi fokus
perjuangan. Tentu bukan sebuah tugas
yang tidak ringan. Program-program kerja ini menjadi tanggung jawab bersama PBH NUSRA untuk terus berjuang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar