Selasa, 20 Januari 2015

Korupsi dan Rasa Kemanusiaan

Korupsi dan Rasa Kemanusiaan
Oleh Hengky Ola Sura
Koordinator Divisi Informasi & Dokumentasi PBH NUSRA
(Artikel ini terbit pada Harian Umum Flores Pos, sebuah media lokal yang ada di Provinsi NTT)

          Tulisan ini lahir dari dua hal yang menurut saya bertalian sekaligus rasa sesak mewakili seluruh masyarakat yang menyaksikan masifnya praktek korupsi di NTT. Pertama  data kerugian uang negara yang dicaplok, dan yang kedua cerita yang lebih tepatnya keluhan beberapa kawan saya yang memilih menjadi guru honorer dan  juga operator sekolah.
Pertama, soal uang negara yang dikorupsi oleh para pemangku/pejabat baik itu kepala daerah, kepala dinas, kepala bagian, kepala sekolah sampai pada staf  lapangan yang nakal dan mata duitan. Total jumlah kerugian uang negara yang dikorupsi oleh para pejabat di NTT itu mencapai triliunan. Saya tercengang-cengang tak percaya saat mendata kasus-kasus korupsi dan kerugian uang negara yang digasak itu.  Kabupaten yang paling korup sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2014 adalah kabupaten Sikka. Angkanya pun fantastis mencapai 60 M lebih. Setelah kabupaten Sikka ada kabupaten Lembata, Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Ende,  disusul kabupaten-kabupaten lainnya.
Kedua, soal keluhan atau lebih tepatnya rasa kecewa dibarengi rasa frustrasi beberapa rekan guru honorer dan operator sekolah yang uangnya ditilep kepala sekolah dengan dalil melengkapi urusan sekolah. Alasan lain yang digunakan selain urusan sekolah adalah  keputusan mengikuti rapat bersama para forum guru sehingga dana BOS dari pengisian dapodik yang seharusnya menjadi hak operator sekolah disimpan untuk sekolah. Hemat saya, ini modus baru penipuan yang dilakukan kepala sekolah. Kisah ini lagi-lagi terjadi di lembaga pendidikan sekolah dasar di kabupaten Sikka juga di kabupaten Flores Timur. Harapan yang seharusnya menjadi penutup tulisan untuk bagian kedua ini buru-buru saya masukan semoga menjadi catatan khusus untuk kepala dinas PPO kabupaten Sikka dan semua kepala dinas PPO kabupaten-kabupaten lainnya agar menindaklanjuti persoalan ini. Saya menangkap rasa sesak yang turut menjalari nubari saya dengan nasib  para honorer dan operator sekolah. Berharap gaji pada uang lelah pengisian data dapodik malah ditilep lagi.

Korupsi dan Rasa Kemanusiaan
Hal yang menarik dari membayangkan dua hal di atas adalah pertama soal banyaknya uang negara tepatnya uang rakyat yang dicuri. Dan yang kedua adalah soal rasa sosial kemanusiaan pelaku pencuri uang atau koruptor. Banyaknya uang yang dicuri itu kalau penggunaannya tepat sasar untuk kebutuhan rakyat serta pembangunan infrastruktur, maka saya kira wajah NTT secara khusus akan langsung sangat berbeda. Fakta terbaliknya adalah bahwa dari banyaknya jumlah uang yang dikorupsi justru semakin masif terjadinya praktik korupsi. Situasi yang tepat untuk menggambarkan keadaan ini adalah korupsi di NTT bereproduksi.
Yang lebih menyesakan lagi adalah bahwa pelaku korupsi itu boleh dikatakan orang-orang yang masuk dalam kategori saleh. Saleh artinya bahwa mereka beragama dan dalam posisi tertentu dalam kehidupan beragamanya mereka memegang jabatan sebagai ketua stasi, ketua lingkungan dan juga ketua komunitas umat basis (KUB) untuk yang beragama Katolik. Begitu pun juga koruptor yang beragama lain misalnya. Tentang kesalehan, mereka sebenarnya adalah orang baik hanya bahwa kebaikan mereka hanya tampak dari luar tapi mental korup mereka tersembunyi dalam jabatan keagamaan yang mereka sandang dari posisi seperti yang tersebut di atas. Kesalehan mereka akhirnya menjadi tanpa visi karena dihadapan uang benar-benar menjadi tak berdaya.
Menutup refleksi sederhana ini saya ingat cerita pendeknya AA Navis dengan judul Robohnya Surau Kami. Cerpen yang ditulis tahun 1950-an  itu menjadi serupa amunisi kritik sosial yang gemanya layak untuk dihidupi oleh semua kita. Surau sebenarnya adalah metafora kesalehan. Konon seorang tokoh dalam cerpen itu meninggal dan siap untuk dihakimi. Ia ditanya tentang apa yang dilakukan semasa hidupnya. Sebelum menjawab ia yakin sungguh bahwa surga menjadi miliknya. Ia menjawab dengan lancar, menyembah Tuhan dan menyebut nama-Nya, membaca Kitab Suci, memiliki pengetahuan iman, menjalankan rukun agama dan tidak berbuat dosa. Jawaban ini bukannya mengantarnya menuju surga tapi malah melemparkannya ke neraka. Ia bertambah kaget karena di neraka ia ternyata menjumpai orang yang lebih saleh daripadanya ada di sana.
Pesan terdalam dari AA Navis melalui cerpennya adalah kesalehan berdoa tidak menjadi jaminan untuk masuk surga. Kisah sederhana ini kiranya menjadi refleksi kita semua. Kesalehan harus sampai mengantar kita pada kekritisan bertindak. Karena dengan tidak berperilaku koruptif kita sesungguhnya memiliki rasa kemanusiaan.

2 komentar:

  1. Orang yang kelihatan salaeh tapidalam kenyataan berplilaku buruk.....Yesus mengatannya ular bludak.yang paling buruk dari segalajenis ular ya penampilannya hanya untuk menyembunyikan kejahatanny. Satu saat akan dapat bagiannya...emangnya Tuhan Allahbisa dikibulin....orang kayakgini nanti kalo mati pasti juga bekal duit...siapa tahu St.Petrus bisa disogok.

    BalasHapus
  2. Orang yang kelihatan salaeh tapidalam kenyataan berplilaku buruk.....Yesus mengatannya ular bludak.yang paling buruk dari segalajenis ular ya penampilannya hanya untuk menyembunyikan kejahatanny. Satu saat akan dapat bagiannya...emangnya Tuhan Allahbisa dikibulin....orang kayakgini nanti kalo mati pasti juga bekal duit...siapa tahu St.Petrus bisa disogok.

    BalasHapus