Korupsi
dan Rasa Kemanusiaan
Oleh
Hengky Ola Sura
Koordinator
Divisi Informasi & Dokumentasi PBH NUSRA
(Artikel
ini terbit pada Harian Umum Flores Pos, sebuah media lokal yang ada di Provinsi
NTT)
Tulisan
ini lahir dari dua hal yang menurut saya bertalian sekaligus rasa sesak
mewakili seluruh masyarakat yang menyaksikan masifnya praktek korupsi di NTT. Pertama
data kerugian uang negara yang dicaplok, dan yang kedua cerita yang lebih tepatnya keluhan beberapa kawan saya yang
memilih menjadi guru honorer dan juga
operator sekolah.
Pertama,
soal uang negara yang dikorupsi oleh para pemangku/pejabat baik itu kepala
daerah, kepala dinas, kepala bagian, kepala sekolah sampai pada staf lapangan yang nakal dan mata duitan. Total
jumlah kerugian uang negara yang dikorupsi oleh para pejabat di NTT itu
mencapai triliunan. Saya tercengang-cengang tak percaya saat mendata
kasus-kasus korupsi dan kerugian uang negara yang digasak itu. Kabupaten yang paling korup sejak tahun 2008
sampai dengan tahun 2014 adalah kabupaten Sikka. Angkanya pun fantastis
mencapai 60 M lebih. Setelah kabupaten Sikka ada kabupaten Lembata, Kabupaten
Manggarai Timur, Kabupaten Ende, disusul
kabupaten-kabupaten lainnya.
Kedua, soal
keluhan atau lebih tepatnya rasa kecewa dibarengi rasa frustrasi beberapa rekan
guru honorer dan operator sekolah yang uangnya ditilep kepala sekolah dengan
dalil melengkapi urusan sekolah. Alasan lain yang digunakan selain urusan
sekolah adalah keputusan mengikuti rapat
bersama para forum guru sehingga dana BOS dari pengisian dapodik yang
seharusnya menjadi hak operator sekolah disimpan untuk sekolah. Hemat saya, ini
modus baru penipuan yang dilakukan kepala sekolah. Kisah ini lagi-lagi terjadi
di lembaga pendidikan sekolah dasar di kabupaten Sikka juga di kabupaten Flores
Timur. Harapan yang seharusnya menjadi penutup tulisan untuk bagian kedua ini
buru-buru saya masukan semoga menjadi catatan khusus untuk kepala dinas PPO
kabupaten Sikka dan semua kepala dinas PPO kabupaten-kabupaten lainnya agar menindaklanjuti
persoalan ini. Saya menangkap rasa sesak yang turut menjalari nubari saya
dengan nasib para honorer dan operator
sekolah. Berharap gaji pada uang lelah pengisian data dapodik malah ditilep
lagi.
Korupsi dan Rasa Kemanusiaan
Hal yang menarik dari membayangkan dua hal di atas
adalah pertama soal banyaknya uang
negara tepatnya uang rakyat yang dicuri. Dan yang kedua adalah soal rasa sosial kemanusiaan pelaku pencuri uang atau
koruptor. Banyaknya uang yang dicuri itu kalau penggunaannya tepat sasar untuk
kebutuhan rakyat serta pembangunan infrastruktur, maka saya kira wajah NTT
secara khusus akan langsung sangat berbeda. Fakta terbaliknya adalah bahwa dari
banyaknya jumlah uang yang dikorupsi justru semakin masif terjadinya praktik
korupsi. Situasi yang tepat untuk menggambarkan keadaan ini adalah korupsi di
NTT bereproduksi.
Yang lebih menyesakan lagi adalah bahwa pelaku
korupsi itu boleh dikatakan orang-orang yang masuk dalam kategori saleh. Saleh
artinya bahwa mereka beragama dan dalam posisi tertentu dalam kehidupan
beragamanya mereka memegang jabatan sebagai ketua stasi, ketua lingkungan dan
juga ketua komunitas umat basis (KUB) untuk yang beragama Katolik. Begitu pun
juga koruptor yang beragama lain misalnya. Tentang kesalehan, mereka sebenarnya
adalah orang baik hanya bahwa kebaikan mereka hanya tampak dari luar tapi
mental korup mereka tersembunyi dalam jabatan keagamaan yang mereka sandang
dari posisi seperti yang tersebut di atas. Kesalehan mereka akhirnya menjadi
tanpa visi karena dihadapan uang benar-benar menjadi tak berdaya.
Menutup refleksi sederhana ini saya ingat cerita
pendeknya AA Navis dengan judul Robohnya Surau Kami. Cerpen yang ditulis tahun
1950-an itu menjadi serupa amunisi
kritik sosial yang gemanya layak untuk dihidupi oleh semua kita. Surau
sebenarnya adalah metafora kesalehan. Konon seorang tokoh dalam cerpen itu
meninggal dan siap untuk dihakimi. Ia ditanya tentang apa yang dilakukan semasa
hidupnya. Sebelum menjawab ia yakin sungguh bahwa surga menjadi miliknya. Ia
menjawab dengan lancar, menyembah Tuhan dan menyebut nama-Nya, membaca Kitab
Suci, memiliki pengetahuan iman, menjalankan rukun agama dan tidak berbuat
dosa. Jawaban ini bukannya mengantarnya menuju surga tapi malah melemparkannya
ke neraka. Ia bertambah kaget karena di neraka ia ternyata menjumpai orang yang
lebih saleh daripadanya ada di sana.
Pesan terdalam dari AA Navis melalui cerpennya
adalah kesalehan berdoa tidak menjadi jaminan untuk masuk surga. Kisah
sederhana ini kiranya menjadi refleksi kita semua. Kesalehan harus sampai
mengantar kita pada kekritisan bertindak. Karena dengan tidak berperilaku
koruptif kita sesungguhnya memiliki rasa kemanusiaan.
Orang yang kelihatan salaeh tapidalam kenyataan berplilaku buruk.....Yesus mengatannya ular bludak.yang paling buruk dari segalajenis ular ya penampilannya hanya untuk menyembunyikan kejahatanny. Satu saat akan dapat bagiannya...emangnya Tuhan Allahbisa dikibulin....orang kayakgini nanti kalo mati pasti juga bekal duit...siapa tahu St.Petrus bisa disogok.
BalasHapusOrang yang kelihatan salaeh tapidalam kenyataan berplilaku buruk.....Yesus mengatannya ular bludak.yang paling buruk dari segalajenis ular ya penampilannya hanya untuk menyembunyikan kejahatanny. Satu saat akan dapat bagiannya...emangnya Tuhan Allahbisa dikibulin....orang kayakgini nanti kalo mati pasti juga bekal duit...siapa tahu St.Petrus bisa disogok.
BalasHapus